Wilmar Indonesia saat ini mengeluarkan Rp 1,3 miliar per tahun untuk melakukan konservasi orang-utan di Kalimantan Tengah. Program ini sudah dimulai sejak tahun 2007, bekerja sama dengan Zoological Society of London (ZSL).
Demikian Komisaris Wilmar Indonesia, MP Tumanggor, di Jakarta. Ini program yang sudah lama berjalan dan masuk dalam Central Kalimantan Project (CKP) seluas 120.000 hektare dan 14.000 hektare, di antaranya untuk konservasi orang-utan.
“Jadi bukan karena orang-utan yang kini jadi sorotan, kami ikut-ikutan. Kami terpaksa membuka program ini, karena kerap terjadi kampanye negatif pada Wilmar, padahal ini seharusnya jadi program tertutup,” kata Tumanggor.
Langkah ini, menurut Tumanggor merupakan komitmen Wilmar sebagai anggota RSPO untuk menjalankan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.
Wilmar sendiri sempat diterpa isu tidak sedap, yang menyatakan bahwa ada tengkorak orang-utan di PT Sarana Titian Permata (STP), anak usaha Wilmar.
“Karena isu itu, Direktorat Penyidik dan Pengamanan Hutan Kementerian Kehutanan telah melakukan investigasi dan menyatakan orang-utan itu ada di koordinat S; 02o 56’ 560”, E 112o 36’ 173”, di luar kawasan perkebunan grup Wilmar,” kata Johannes, Legal Corporate Director Wilmar Indonesia.
Bahkan Wilmar juga telah membangun departemen konservasi dalam organisasi perusahaan Wilmar, “Ini untuk menangani secara serius habitat orang-utan dan semua habitat yang harus dilindungi. Tidak mungkin soal konservasi ditangani oleh orang kebun. Kami bahkan punya SOP khusus bila menemui satwa tertentu, termasuk orang-utan,” tambah Tumanggor lagi.
Di departemen ini, ada 20 orang senior supervisor, yang mendidik 950 orang staf perkebunan untuk menjalankan SOP penanganan orang-utan yang ditemukan dan habitat lain di sekitar areal perkebunan.*(suarapembaruan.com)