Jum'at, 24 Mei 2013
Program Pemerintah Kota Dumai
Media, Indonesia, berita Indonesia, foto Indonesia, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik, rss feed, galeri foto,medan kini,terkini,medan, sumatera utara,sumut,nasional,ekonomi,sosial,budaya
Maknai Ramadhan dengan Hati Iklas dan Bersih
Penulis : Pancen Adi
Kamis, 2 Agustus 2012 | 14:50:59
YUHARDI MANAF, Anggota DPRD DUMAI, mengajak seluruh komponen masyarakat untuk besama memaknai bulan ramadhan dengan hati yang iklas dan bersih. Dengan adanya hati iklas dan bersih dari segala godaan itu, maka diharapkan semoga di hari-hari berikutnya, puasa kita semakin khusyuk, iman semakin tebal dan ketaqwaan semakin kuat. Mari bersama-sama bersyukur karena tahun ini kita masih menjumpai bulan Ramadan yang penuh berkah. Semoga di tahun depan dan tahun-tahun berikutnya kita diberi karunia umur panjang untuk berjumpa kembali dengan bulan yang mulia ini.

Sebagaimana Sabda Raulullah dimana di setiap sepuluh hari bulan Ramadan mengandung hikmah yang besar. Sepuluh hari pertama mengandung spirit kasih sayang (awwaluhu rahmah), sepuluh hari kedua mengandung makna pengampunan (ausathuhu maghfirah), dan sepuluh hari terakhir umat muslimin mendapatkan kompensasi dari Allah SWT berupa dibebaskan dari api neraka (‘ithqun min an naar). Karena itu, amat disayangkan jika umat mukmin tidak menjalankan Ramadan ini dengan penuh kekhusyu’an.
 
Di bulan suci ini, kita umat Islam diperintahkan untuk berpuasa, sebagaimana umat-umat terdahulu juga diperintahkan berpuasa. Selain puasa, kita juga disunnahkan menunaikan salat tarawih, tadarrus, I’tikaf dan memperbanyak dzikir. Karena itulah bulan ramadan disebut sebagai bulan ibadah. Bahkan apapun yang kita lakukan di bulan ini, selama niat kita baik karena Allah, semua dapat dimaknai ibadah. Kerja kita adalah ibadah, sikap dan perilaku kita juga ibadah. Bahkan tidur kita pun merupakan ibadah. Inilah berkah ramadan yang harus senantiasa kita syukuri.
 
Berbicara makna ramadan, kita akan menemukan beribu hikmah yang terkandung di dalamnya. Terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa Ramadan adalah bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Alquran turun di bulan Ramadan. Kemenangan Islam pada saat fathu Makkah juga terjadi di bulan Ramadan. Bahkan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan bulan Ramadan. Karena itulah Ramadan juga disebut bulan kemenangan. Mari kita bersama-sama berjuang untuk meraih kemenangan di bulan yang agung ini.

Untuk meraih kemenangan Ramadan, kita memang harus melalui proses perjuangan yang panjang. Kita harus mampu melampaui kawah candradimuka Ramadhan ini dengan membuka segenap mata hati kita, pola pikir dan sikap kita agar kita tidak sia-sia menapaki perjalanan Ramadan. Kita harus berjuang keras melawan syahwat dan hawa nafsu. Karena sesungguhnya jihad yang terbesar dan terberat adalah jihad melawan nafsu. Akbarul Jihaadi, Jihaadul Hawa.

Karena itu saya hanya ingin mengingatkan tentang sebuah hadits Nabi yang kaitannya dengan ibadah puasa Ramadan. Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya, “Betapa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan hikmah sedikitpun dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga saja. Dan betapa banyak orang yang salat di malam hari, tetapi tidak mendapat apapun kecuali sekadar mengantuk akibat bangun malam” (HR. Ad-Darimi).

Hadits di atas semoga menjadi sarana kontemplasi diri, muhasabah an nafsi, agar kita benar-benar mendapati diri kita sebagai golongan alladziina amanuu, seraya bermetamorfosa menjadi muttaqin menuju kemenangan sejati. Tidak saja mulia dihadapan Allah, tetapi juga terhormat ditengah-tengah sesama manusia. Bukan sekadar kesalehan personal, melainkan juga kesalehan sosial.

Walhasil, apabila penempaan diri di bulan ramadan ini telah kita resapi dan kita jalani secara ikhlas dan sungguh-sungguh, Insya Allah kita akan menemukan diri kita menjadi orang-orang yang tercerahkan. Kita pun siap menjadi manusia paripurna. Mengabdi kepada Allah sebagai hamba, dan mengabdi kepada Negara sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Sehingga kemenangan yang akan kita raih di bulan ini, bukan sekadar kemenangan personal, melainkan kemenangan bersama secara sistemik, kemenangan bangsa Indonesia.

Kemudian sebelum mengakhiri tausiyahnya, Ramadhan hadir tiap tahun dan sungguh merugi jika kita hanya menjadikannya rutinitas, tanpa ada ikhtiar untuk terus memperbaiki diri. Perintah agama bukanlah “pepesan kosong”, tetapi senantiasa menyimpan kekuatan mendidik dan melatih manusia secara konstruktif. Bulan ramadhan hampir berlalu (idul fitri 1432 H) kembali pada kesucian disimbolkan adanya maaf dari allah perlu disempurnakan dengan maaf dari manusia. Dalam islam ada yang disebut hak allah (haqqullah) dan hak manusia (haqqul adami). Dosa kepada allah menimbulkan hak bagi allah untuk menuntut penebusan dari manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak luput dari perbuatan salah kepada sesama manusia. Maka, ungkapan “mohon maaf lahir dan batin” merupakan bentuk pelaksanaan hak manusia. Prinsip saling memaafkan adalah nilai-nilai moral agama yang cinta kedamaian dan keharmonisan hidup. Kesucian lahir dan batin menjadi motivasi untuk memberikan kesadaran guna melaksanakan keberpihakan kepada orang-orang yang lemah. Kesadaran demikian akan menghantarkan kita menjadi manusia yang utuh, yang diresapi dan disemangati untuk selalu berjiwa besar dengan saling memaafkan serta kepedulian terhadap kemanusiaan.

Puasa yang telah dilaksanakan akan memberi dampak revolusioner bagi pembersihan dan pengembangan kedirian menuju keparipurnaan sebagai khalifatullah. Selamat menunaikan ibadah puasa dan selamat menyambut datangnya hari kemenangan Idul Fitri 1433 H/ 2012 M. (*)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.dumaisatu.com
Tinggalkan Komentar
Nama*:
Email*:
Website:
Komentar*:
: * Masukkan kode disamping!